Jadiii… di Hari Minggu yang indah, berjalan-jalanlah saya menuju Central Park, diundang untuk peluncuran jam dan kabarnya di sana ada Balon Udara. Hwaaa…. dari dulu pengen naik itu tapi ga pernah kesampean. Ternyata Balon Udara itu adalah bagian dari acara Timberland Watches. Pas dateng ke sana, balonnya lagi ditiup *eaaaa* *menurut looo niup balon*, intinya lagi coba dinaikin lah.

Begitu tiba di sana , dinner-lah saya bersama @TimMarbun, @TrinityTraveler, @absolutraia, @rayafahreza, @aMrazing, @nonaDita, @vehandojo, @newsplatter, @qronoz bareng tim dari Timberland Watches. Selama ini aku taunya brand ini cuma buat clothing ama boots, tapi ternyata mereka mengeluarkan koleksi jam tangan juga, dan cocoknya buat aktifitas di luar ruangan. Cocok buat yang berjiwa adventure dan sporty.

Jadi pengen beliin buat sapa gitu gak sih :”> *beliin buat kekasih di masa depan*
Tim dari Timberland Watches, Mas Agung ini ngejelasin soal koleksi jam tangannya ini, yang nyenengin adalah koleksi ini sangat “Environtmentally Friendly Watches”, material yang digunain sangat ramah lingkungan, box-nya bisa didaur ulang. Tali jam tangan dilapis coating, jadi gak usah khawatir sama keringet, sampe kaca yang scratch-proof. Bener bener didesain buat kamu yang “aktif” jumpalitan di alam bebas :))
Tugas #MagicalMay2012 #2 :
Cari batu (jenis apa saja) yang kamu anggap bagus bentuknya dan nyaman dalam genggaman tangan kamu. Kamu bisa cari di pinggir jalan, pinggir kolam, lalu cuci bersih batu pilihanmu. Tahu film “Inception” kan? Nah, kita juga bisa punya batu seperti Leonardo DiCaprio di film itu. Nanti malam sebelum tidur dan sebelum berdoa, genggam batu itu dan ingat-ingat apa pengalaman terbaik yang kamu peroleh sepanjang hari ini. Mengapa pakai batu? Karena ada bermilyar batu di kota kita, tapi mengapa batu itu yang terpilih oleh kita? Nah! Betapa panjangnya perjalanan batu itu untuk sampai ke tangan kita :) Batu itu berfungsi sebagai tanda pengingat the best thing of our day.
Dan inilah hasil perburuannya
Sebenernya hampir seharian ga sempet nyari batu. Pas mau berangkat ke kantor udah dijemput ojek, kerja di kantor seharian, lembur, pulang udah ga ada tenaga untuk nyari batu di sepanjang jalan kost, saat lagi tengak tengok di teras, saya melihat ke pot tanaman, ternyata ada batu batu di dasarnya, dan saya menemukan satu batu yang berbentuk segitiga, “The Triangle Stone”.

Dari dulu saya suka dua bentuk : lingkaran dan segitiga. Lingkaran itu merefleksikan sesuatu yang selalu berputar, tak mengenal awal dan akhir. Sementara segitiga itu lebih perwujudan bentuk yang horisontal dan vertikal, dua titik di sisi yang sama dan satu yang menjadi puncaknya. Bisa diartikan macam-macam kalau bagi saya. Seperti saya dan manusia lainnya di sisi yang sama, dan Tuhan di puncak atau saya dan entah siapa dengan tujuan yang sama yang menjadi puncaknya.
Nemunya di teras kost sendiri lagi, di tempat yang sering saya abaikan. Huhuw apa saya sering mengabaikan hal hal yang ada di sekitaran? hmm… *kemudian introspeksi*
Well tugas menulis selanjutnya adalah :
Tulis 9 hal yang kita syukuri tentang hari kemarin (1 Mei 2012) dan 1 pengalaman buruk yang baru kamu ketahui sekarang hikmahnya dan syukuri kejadiannya sekarang.
Berhubung ini postingan telat, saya kompilasi untuk di tanggal 1 - 3 Mei 2012
Pengalaman buruk : Terjadi sesuatu akibat ketidak-telitian saya. Terjadi sesuatu karena ke-inisiatifan yang terlalu tinggi. Mudah mudahan semua baik baik saja. Selanjutnya ya saya memang harus lebih …. teliti dan tidak terlalu berinisiatif tinggi hehe.
Di penghujung hari pertama di Bulan Mei ini, saya akan mencoba mengikuti project #MagicalMay2012 yang dibuat oleh @Dear_Connie & @kikisuriki. Sebatas catatan komitmen, dimana saya akan mencoba menulis perjalanan dari proses pencarian jawaban & penyelesaian tantangan harian.
Oke #MagicalMay2012 #1 : Gratitude List: Tulis 10 hal yang kamu rasa pantas untuk kamu syukuri dalam hidupmu.
Huff. Gak tau kenapa hal yang nampaknya mudah ini sangat terlihat sulit bagi saya. Bukannya tidak mudah bersyukur, tapi ketika saya menelusuri kembali hal-hal yang saya syukuri, saya jadi teringat kembali pada masa dan proses yang telah saya jalani. Terus terang di beberapa bagian, saya cukup melewati beberapa hal yang berat. Yah bumbu bumbu hidup yang tajam lah. Tuh kan belum mulai nomor 1 aja udah mau nangis, nampaknya ini akan menjadi salah satu ‘pelepasan’, mencoba membuka diri dan juga jujur.
Fyuuuh! It’s not easy.
Alhamdulillah. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. :)
Wohooooo.
Akhirnya punya passpor juga, alhamdulillah yah, sesuatu. Sebagai orang yang punya cita-cita keliling dunia, ini adalah langkah pertama. Betul?
Singapore, menjadi negara pertama yang menghias passpor saya. Tadinya sih saya, Artasya, dan Poeti mau nonton Foo Fighter. Karena batal, teteplah kita kesana, mau nonton Wicked juga gitu. Since this is my first time, i was sooooo exciteeeeeed!
CAUTION: Postingan ini akan mengandung banyak foto foto narsis, harap maklum lah ya…baru pertama + narsis ini sudah mendarah daging
Begitu sampai di Changi, langsung naik MRT (Mass Rapid Transportation) menuju apartement … GILA YAK, RAPI BANGET, TERATUR! Orang - orang yang lagi nunggu ini tertib banget, mereka tanpa disuruh itu nunggunya di belakang garis, biar ga mengganggu orang yang keluar, ada televisi yang jadi penanda next MRT akan datang berapa lama lagi. Canggih parah. (oke foto dulu dong sambil nunggu MRT)


(Suasana di dalam MRT. Bersih banget kan yaaaa…)
Sebenernya ya.. well, okelah Indonesia ketinggalan jauh. Tapi habit untuk tertib kayak gini harusnya bisa, dimulai dari diri sendiri lah, dimulai dari kalo naik Bus Transjakarta. Trus harusnya, Bus Transjakarta pake sistem kaya kartu MRT aja, udah ada sih, tapi ini dijadiin semua orang harus pake aja, tinggal top up isinya, jadi ga nyampah pake kertas gitu buat tiketnya.
Kebetulan apartemen temen ada di Pasir Ris, tempat ini adalah sektor persepedahan deh, semua orang nampak bersepeda, seneng liatnya. Kita naik taksi yang sangat kental nuansa orientalnya.

Yang parkir sepeda banyak banget, ampe bertingkat, lalu mereka meneruskan perjalanan pake MRT. Keeewwwl!

Malamnya, kita menuju Marina Bay Theatre. Menonton WICKED! Well tempat ini keren banget, nampak eksklusive haha. Sempet pergi ke Casino-nya, melihat orang-orang pada judi. Akhirnya liat mesin Roulette yang kaya ada di game game itu, sayang karena ga boleh foto jadi ga bisa di-upload.

Keesokannya, kita memutuskan untuk ke Singapore Art Museum. Jalan kaki di Singapore itu enak banget, sumpah. Trotoarnya gede, bersih, gak ada pedagang kaki lima. Sampai di SAM, ternyata di hari itu (Jum’at) kita free entrance. Lumayaaaan ngirit 15$. HAHA kebetulan banget. Kalo mau gratis, ke sana di hari Jum’at aja. Beberapa foto ada di postingan sebelum ini ya.

(Venus in Polkadots)

(this one is so cool! Ruangan gelap ini isinya semacam sinar infra red yang memantul-mantul. Semacam cahaya dari neraka, tapi damai banget gitu di dalemnya)

Setelahnya, kita menuju the famous Orchard Road. Berikut tangkapan saya di sepanjang jalan.

Ini orang orang dari Safari Night Zoo lagi promo, lucu sekali mereka, benar benar menarik perhatian dengan “Baby Girrafe” nya, sayang ga sempet kesana.

Street Art - Orang ini menutupi badannya hanya dengan lampu-lampu dan apa yang dilihat di foto ini lah dan dia diaaaaaam terus.
Malamnya ke Clarke Quay. Dipikir pikir, ini daerah Jakarta Kota Lama bis jadi tempat kaya ginian, sungainya dibersihin, ada cafe-cafe modern jadi ga terkesan kumuh
Keesokan harinya. Kami mengunjungi Bugis Street. Semacam ITC gitu, cuma di sini barangnya muraaaaah. Kalap beli boots, cape, dll -_____-

Menjelang sore, menyempatkan diri ke Singapore National Museum. Kebetulan hari itu (Senin) di atas jam 18.00, free! Yay lagi! Akhirnya nunggu beberapa menit biar gratis lalu masuklah kita. Masuk ke sini saya sedih, kok banyak yang menurut saya “Loh, ini kan punya Indonesia? Kok masuk NATIONAL MUSEUM?”, mereka ga punya kebudayaan yang kuat kaya Indonesia ah, kita harus bersyukur dan bangga, Negara kita ini kaya banget budayanya, Singapore kalah jauh untuk hal ini. Berikut foto foto di Singapore National Museum.

Sate kan Indonesia (CMIIW).. Suzanna, aku tau kamu pasti gak terima (halah)

Isinya ga istimewa2 amat. Untung masuk ga bayar hehehe… (teteup). Berhubung ini adalah malam saya terakhir di Singapore, segeralah saya menuju tempat saya akan di stempel Singapore … yak …. foto di Patung Merlion! HAHAHA

Kita milih tempat makan malam di tempat yang tepat bersebrangan dengan Marina Bay (tempat saya nonton Wicked) dan sepertinya malam itu memang penuh keberuntungan, dari tempat saya duduk, eeeehh Marina Bay lagi ngadain pertunjukan musikal laser. Kayaknya yang bisa menikmatinya ya dari tempat saya ini daripada di Maarina Bay-nya. Woaaaah keren gila. Sinar laser ke langit langit, kanan, kiri, menyoroti kita dengan irama lagu yang terdengar dari kejauhan. Oh saatitu jam 8 waktu setempat. Kalau mau liat, jam segitu aja datengnya ya …

Negara yang menyenangkan, rapi, teratur, belum puas sih. Nanti mau ke sana lagi. Tapi biar gimana gimana, enakan Indonesia. Semoga Indonesia bisa teratur seperti Singapore.
Sampai jumpa di cerita cap cap passpor selanjutnya :D

Akhirnya, tepat di penutupan Bulan Film Nasional, 31 Maret lalu saya bisa menonton film Postcard From The Zoo, kebetulan hari itu adalah pemutaran terakhir di Indonesia. Saya antusias sekali menonton film ini, tentu karena ada embel embel “Zoo”, saya yang memang penggemar Kebun Binatang ini ingin tau cerita seperti apa sih yang ditawarkan, belum lagi ada Ladya Cheryl yang bagi saya seperti Ellen Page nya Indonesia karena sering memainkan film film yang ‘gak ketebak’, juga ada Nicholas Saputra, dan tentu dari sutradaranya sendiri Edwin. Saya pernah menonton karya dia sebelumnya Babi Buta Ingin Terbang, dan film dia memang sangat berbeda, permainan visualnya sangat tajam, adegan-adegannya lebih bersifat simbolis daripada naratif.
Cerita dimulai dengan kehidupan Kebun Binatang Ragunan dan anak kecil yang lucu banget, dia mengeksplor kebun binatang itu dari pagi - siang - malam, ya, dia tinggal di sana. Adegan adegannya sangat indah, Ragunan menjadi sangat menakjubkan, saya seperti dibawa ke dunia Oz, tapi di Ragunan. Sangat damai, terlalu damai buat saya sampai saya terharu sendiri dan nangis.
Anak itu beranjak dewasa, Lana (Ladya Cheryl) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebun binatang. Lana sangat mengagumi binatang jerapah, dia menyimpan obsesi sendiri terhadap hewan paling anggun itu. Terus terang, saya sangat amat iri dengan Ladya Cheryl, dengan aktingnya, dengan kesempatan yang diberikan untuknya di film itu, dia bisa masuk ke kandang jerapah yang sangat saya sukai kalo saya ke Ragunan. Kedekatan emosional dia dengan macan, kuda nil dan binatang lainnya pun begitu. Saya tahu akting itu tidak mudah, apalagi harus berakting dengan hewan, saya tidak melihat rasa ketakutan atau jijik dari Ladya, dia bermain dan menjiwai dengan sangat apik. Salut.
Lalu hadirlah Sang Cowboy yang juga pesulap, Nicholas Saputra. Sungguh karakter yang sangat unik. Dia mencari nuansa yang mendukung jiwanya. Berkelana di Ragunan seakan itu adalah hutannya. Haha Edwin benar benar gila.
Lana tertarik, mengikuti, dan ikut pergi bersama Cowboy. Keluar untuk pertama kalinya Ragunan. Dan lalu banyak kejutan yang terjadi hingga akhir film. Keterkaitan antara kehidupan hewan dan tingkah manusia.
Sungguh film yang sangat sureal dan indah. Scoring yang cukup apik. Beberapa bagian sangat puitis. Saya sangat amat menikmati dan bersyukur, ada yang membuat film bersetting Kebun Binatang dan mengemasnya dengan rasa yang mendamaikan.
Film ini terpilih mengikuti kompetisi Berlin International Film Festival 2012, dan setelah BFN ini, ia akan berkeliling dunia, makanya donasi untuk menonton film ini cukup mahal, tapi dengan pengalaman yang saya dapat saat menontonnya, it’s worth. Semoga segera kembali diputar di Indonesia, tapi saya ga yakin bisa lolos di bioskop-bioskop pada umumnya, karena Sutradara tidak ingin menyensornya. Memang ada beberapa adegan yang cukup hmm… tapi kalau itu hilang dan disensor, esensi film ini hilang.
Secara singkat, maknanya filmnya bagi saya : Terkadang kehidupan di luar kebun binatang, bisa lebih liar daripada di dalamnya
“Hilang dan pergi itu berbeda. Kalau hilang itu harus dicari. Kalau pergi, nanti juga balik sendiri” - PFTZ

POSTCARDS FROM THE ZOO
Directed & Written by: Edwin. Producer: Meiske Taursia. Co-writers: Daud Sumolang, Titien Wattimena. Director of Photography: Sidi Saleh. Editor: Herman Kumala Panca. Art Director: Bayu Christianto, Kurniawansyah Putra. Art Supervisor: Eros Eflin. Scoring Music: Dave Lumenta. Zeke K Make Up: Eba Sheba. Casting: Nanda Giri. Costume Designer: Aulia Yogyanti. Cast: Ladya Cheryl, Nicolas Saputra, Adjie Nur Ahmad, Klarysa Aurelia Raditya, Dave Lumenta, Abizars, Iwan Gunawan, Nitta Nazyra C. Noer, Heidy Trisiana Triswan.
Sumber ilustrasi Postcard From The Zoo didapat dari sini

Ini adalah hadiah dari @dimasario. Salah satu orang yang saya kagumi soal wawasan tentang musik. Silahkan kunjungi blog @dimasario juga di sini
Mixtape : “Nyanyian Pedusi”. Kumpulan musik-musik yang menurut Dimas, ke saya-sayaan, mewakili saya, nada nada yang bisa membuat senyum simpul di hati dan kepala. Pedusi adalah perempuan, semua lagu di sini dinyanyikan oleh perempuan. Telinga saya menyukainya. Kalian bisa dengar juga, silahkan unduh :)
Sebenernya dari dulu mau menulis apapun yang aku dapat dari menonton sebuah film atau membaca buku atau dari percakapan-percakapan datang dari lawan bicara atau mungkin hasil menguping. Tapi tidak sepenuhnya bisa berjalan, paling beberapa tersebar diantara tweet tweet yang sudah tengelam atau beberapa menjadi puisi. Beberapa hanya terendap di kepala dan kemudian, ini bagian paling menjengkelkan, aku lupa.
Namun tak ada salahnya untuk mencoba mulai dari sekarang, lebih rajin menyimpan apa yang aku dapat berupa tulisan. Jika nanti berhenti kalau malas atau apa, biarlah, nanti di waktu yang berbeda, ada yang menarikku untuk memulainya lagi.
Aku merasa beberapa minggu ini adalah hari hari yang akan membawaku ke sebuah pembaharuan. Aku merasa seperti mendekati tahun baru, paling tidak untukku sendiri. Aku resign dari pekerjaan yang kugeluti selama hampir 3 tahun, pekerjaan yang aku dapat tepat setelah hari kelulusan sebagai mahasiswa, cukup berat mengingat kantorku, tempat yang menjadi paling sering aku kunjungi dibandingkan rumah saudara/ om/ tanteku. Tempat dengan orang orang yang menyenangkan di dalamnya dan menjadi keluarga kedua aku di Jakarta, dan aku memutuskan untuk berhenti, bukan karena aku tidak suka, aku harus berhenti dan memulai hal baru, berdansa dengan ritme yang baru menemukan pekerjaan, dan lingkungan yang baru.
Beberapa pekan ini aku banyak berlibur dan mengunjungi banyak tempat yang belum pernah aku datangi, sebagai salah satu tindakan mencicil untuk mencicipi bumi yang ingin juga aku kitari ini. Tsah.. Amin Ya Allah.
Aku juga mencoba untuk disiplin membaca buku, menonton film secara khusyuk.
Semua itu aku lakukan dalam upaya merapikan lagi cara berpikir di kepala, mencoba mendefinisikan lagi semua rasa yang aku rasa.
Semua yang aku lakukan adalah percobaan, percobaan untuk menjadi diri yang lebih baik dari sudut apapun.
Setelah 15 hari ini, dimana aku telah menyelesaikan deadline untuk buku kumpulan blog prosaku Sadgenic dan juga 1 cerita untuk kumpulan cerpen The Journey 2, berlibur dan sebagainya, aku akan menghadapi pekerjaan baru dengan diri yang baru, aku merasa ada sesuatu di dalam diriku yang berbeda entah di bagian apa. Aku merasa aku harus berbeda. Aku tidak boleh sama. Di beberapa bagian.
Semoga aku menjadi lebih baik. Semoga apa yang aku lakukan juga baik. Semoga tidak mengecewakan banyak orang.
Another goodbye, another hello. Another stop, and another next & play. Happy New Year, self :)

(kolase yang dibuat oleh teman teman di kantor lama saat Farewell)
Ok, postingan ini telat hampir sebulan. Maaf ya Revlon yang mengundang saya untuk hadir di Poste dalam rangka Launching Revlon Colourburst Lip Butter *grin*.
Saya bukan seorang make up blogger, plus saya tuh dulu tomboy, jarang banget dandan, tapi semenjak kerja jadi kudu & wajib belajar make up. Cuma sedari kecil suka merhatiin orang dandan, jadi begitu diundang ke acara ini seneng lah, bisa belajar sekalian.
Begitu masuk ke Poste, suasana berubah jadi sangat berwarna warni. Berasa di negeri permen, cocok banget ama nama acaranya “Candyland Nite”. Acara malam itu yang di hebohin oleh Iwet Ramadhan & Ary Kirana berlangsung menyenangkan. Ada bincang bincang dengan Mas Hendro (Make Up Artist dari Revlon), Carrisa Putri (Brand Ambassador Revlon) mengenai trend make up 2012 dan membicarakan seputar trend fashion 2012 bersama Nina Nikicio (CEO of fashion label Nikicio) & Dewi Utari (Fashion Editors Of Harper’s Bazaar Indonesia).
Sempat ada game kecil-kecilan, mengundang 3 pasangan fashion & make up blogger untuk mendandani 3 model sesuai dengan tema 2012. Saya sempet diajak maju oleh Endi Feng (make up blogger) untuk berpasangan dengan dia, dan kita juara II. Yay.
Setelahnya kita diminta mencoba Revlon Colourburst Lip Butter, ada 24 warna, so colorful! Lipstik ini sendiri sangat moist, ringan, cocok buat saya yang punya bibir dengan cenderung agak kering. Packagingnya juga menarik, cute & elegant. Harganya cukup terjangkau dengan kelebihan yang dimiliki. Rp. 75.000,-
So, here’s the photo at that night.
Lollipop and candy everywhere
Me, with a bucket of flowers & lips
Jia Effendie, a friend of mine
Ary Kirana, the MC at that night.
Menyenangkan kalau melihat sepasang manusia sedang bersenang-senang. Kaya Pomplamoose ini, duo musisi, saya ga tau apa Natalie Dawn & Jack ini merupakan sepasang kekasih. tapi menyenangkan sekali melihat mereka menyanyi bersama, bermain main dengan musik bersama-sama.
I love them. Cek channel mereka. Inspiring & kadang haru sendiri ga tau kenapa. Mungkin karena mereka sama sama melakukan hal yang mereka sukai :’)
FEIST (live in Jakarta) - Fairground. 15 February 2012.
I love Leslie Feist very bery much. Stunning Voice! and surprise surprise Erlend Oye (Kings Of Convenience) was in Indonesia at that time so, yeah he’s there and singing my favourite song, together “The Build Up”
I’m in love with Feist’s Backing Vocal too : “Mountain Man” (trio). And i found their youtube channel
Thank you for coming Leslie!
“Midnight In Hollywood” by Hollywood Nobody (Pop Bossanova Band from Bandung)
IFI Bandung - 18 February 2012. They’re awesome! Check out their song here & i can’t hardly wait for their next album. :)
Photo taken with Lumia LX - 5.

20 fighters are ready to rumbleeeeee…

If i bought 1st class tickets, i’ll have a chance to photographed in the arena and posted on a big screen like them. :))

Real man, FIGHT!

Hey handsome ^ ^
ONE Fighting Championship “Battle Of Heroes”. Ini adalah kali pertama saya menyaksikan acara “berantem”, penasaran pengen nonton karena sering teracuni film film semacam The Warrior, ketika ada kesempatan para fighter dari beberapa negara ini datang ke Indonesia masa iya ga disaksikan dengan mata sendiri. Sempet takut kalau ada adegan berdarah-darah tentunya saya pasti gak akan kuat dan akan pingsan di tempat. Tapi ternyata, seruuu.. saya malah brutal kalo aksi mereka ga agresif dan saling menyerang. Karena ada beberapa fighter yang saya perhatikan main strategi menunggu mulu, kalo diserang duluan baru bereaksi, huh kaya cinta aja. Kalo saling menyerang dan agresif, itu seru banget nontonnya =))).
Ada sedikit adegan berdarah darah (ada fighter yang memukul membabi buta), tapi karena saya nontonnya dari kejauhan (maklum kelas paling murah belinya) jadi ga begitu gimana lah, cuma semriwing - semriwing dikit.
Overall, pengalaman baru yang memuaskan! Next kalo ada lagi, pengen nonton lagi.
Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.[Plato]
Tadinya sama sekali gak ada kepikian buat trip di awal 2012, soalnya sempet agak kecewa sama perjalanan ke Sawarna di pergantian tahun kemarin. Trus cuaca kurang mendukung, hujan dan angin kencang dimana-mana. Tapi, teman saya Mol, mengajak saya ke Ujung Kulon, 2D1N trip di Pulau Peucang. Wait, ini pulau yang saya pengen banget datengin pas taun baru kemarin kan? Semacam jawaban doa yang tertunda, jadi saya sanggupilah trip ke Ujung Kulon itu yang difasilitasi oleh @tukang_jalan. Walopun agak was was juga ama cuaca, jadi ya, saya ga pasang ekspektasi berlebih lah.
Berangkat dari Jakarta pukul 10 malam bersama 26 orang lainnya dengan menaiki mini bus, kami menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 7 jam menuju Sumur. Saya minum Antimo, HAHA, saya itu orangnya ga mabukan, tapi saya perlu tidur dan obat ini selalu berhasil, katanya sih jalanan ada yang rusak dan beberapa penumpang sampe ga bisa tidur, saya? Aduuuh saya ga berasa apa apa, pokoknya kalo bangun selalu bertanya “Ini dimana? Masih jauh?” dan kalo belum sampai, saya cukup mudah untuk terpejam dan kembali tidur.
Sampai di Sumur, kita sarapan sambil menunggu kapal yang akan mengantar rombongan ke Pulau Peucang.

(Suasana Pantai di Pulau Sumur)
Ada semacam rumah – rumah (saya lupa namanya) yang sedang bersandar di pantai, nanti kalau laut pasang, mereka akan berlayar dan mengapung, lalu memancing ikan dengan menggunakan jala yang keluar dari bawah rangka rumah tersebut.
Kapal yang akan mengantar kami sudah mendekat. Kami segera berlayar menuju Pulau Peucang dengan lama perjalanan laut 3 jam. Setibanya di sana, saya cuma bisa bilang ….
WOOOOOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAWWWWWWWWWW…